{"id":393,"date":"2017-12-13T13:02:33","date_gmt":"2017-12-13T06:02:33","guid":{"rendered":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/?p=393"},"modified":"2020-10-06T19:55:06","modified_gmt":"2020-10-06T12:55:06","slug":"principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/","title":{"rendered":"Prinsip Desain Lereng Batu &#8211; 1.4 Metode desain lereng batuan"},"content":{"rendered":"<p><strong>1.4 Metode desain lereng batuan<\/strong><br \/>\nBagian ini merangkum empat prosedur berbeda untuk mendesain lereng batuan, dan menunjukkan data dasar yang diperlukan untuk menganalisis stabilitas lereng. Metode desain dan data desain sama-sama digunakan untuk pertambangan dan teknik sipil.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-394\" src=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\" alt=\"\" width=\"298\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg 298w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-150x150.jpg 150w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1.jpg 475w\" sizes=\"(max-width: 298px) 100vw, 298px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Tabel 1.1 Definition of landslides features<\/p>\n<p><strong>1.4.1 Ringkasan metode desain<\/strong><br \/>\nCiri dasar dari semua metode desain lereng adalah bahwa geser terjadi di sepanjang permukaan geser diskrit, atau di dalam zona, di belakang permukaan. Jika gaya geser (gaya geser) lebih besar dari kuat geser batuan (gaya tahan) pada permukaan ini, maka lereng akan tidak stabil. Ketidakstabilan dapat berupa perpindahan yang mungkin atau mungkin tidak dapat ditoleransi, atau lereng dapat runtuh secara tiba-tiba atau secara bertahap. Definisi ketidakstabilan akan tergantung pada aplikasinya. Misalnya, lereng tambang terbuka dapat mengalami perpindahan beberapa meter tanpa mempengaruhi operasi, sedangkan lereng yang menopang penyangga jembatan akan memiliki sedikit toleransi terhadap pergerakan. Selain itu, jatuhnya batu tunggal dari lereng di atas jalan raya mungkin tidak terlalu berdampak jika ada parit yang memadai untuk menampung jatuhnya, tetapi kegagalan sebagian besar lereng yang mencapai permukaan yang dilalui dapat menimbulkan konsekuensi serius.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-395\" src=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.2-300x118.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"118\" srcset=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.2-300x118.jpg 300w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.2-768x302.jpg 768w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.2-1024x403.jpg 1024w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.2.jpg 1166w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Tabel 1.2 Definition of landslides dimensions<\/p>\n<p>Berdasarkan konsep stabilitas lereng ini, stabilitas lereng dapat dinyatakan dalam satu atau<br \/>\nlebih dari istilah berikut:<br \/>\n(a) Faktor keamanan, FS \u2014 Stabilitas diukur dengan kesetimbangan batas lereng, yang stabil<br \/>\njika FS&gt; 1.<br \/>\n(b) Strain \u2014 Kegagalan yang ditentukan oleh onset strain yang cukup besar untuk mencegah pengoperasian yang aman dari<br \/>\nkemiringan, atau laju pergerakan melebihi laju penambangan di tambang terbuka.<br \/>\n(c) Probabilitas kegagalan \u2014 Stabilitas diukur dengan distribusi probabilitas perbedaan<br \/>\nantara gaya penahan dan pemindahan, yang masing-masing dinyatakan sebagai distribusi probabilitas.<br \/>\n(d) LRFD (desain faktor beban dan resistansi) \u2014Stabilitas ditentukan oleh faktor resistansi<br \/>\nlebih besar dari atau sama dengan jumlah beban terfaktor.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-396\" src=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.3-300x168.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.3-300x168.jpg 300w, https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.3.jpg 722w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Tabel 1.3 Values of Minimum total safety<\/p>\n<p>Saat ini (2003), faktor keamanan merupakan metode desain lereng yang paling umum, dan terdapat pengalaman luas dalam aplikasinya pada semua jenis kondisi geologi, baik untuk batuan maupun tanah. Selain itu, ada faktor nilai keamanan yang diterima secara umum untuk lereng yang digali untuk tujuan berbeda, yang mendorong persiapan desain yang cukup konsisten. Kisaran total faktor keselamatan minimum seperti yang diusulkan oleh Terzaghi dan Peck (1967) dan Canadian Geotechnical Society (1992) diberikan pada Tabel 1.3.<\/p>\n<p>Pada Tabel 1.3, nilai atas dari total faktor keselamatan berlaku untuk beban biasa dan kondisi pelayanan, sedangkan nilai yang lebih rendah berlaku untuk beban maksimum dan kondisi geologi yang diperkirakan terburuk. Untuk tambang terbuka, faktor keselamatan yang umumnya digunakan adalah dalam kisaran 1,2\u20131,4, menggunakan analisis ekuilibrium batas untuk menghitung secara langsung faktor keselamatan, atau analisis numerik<br \/>\nuntuk menghitung timbulnya ketegangan berlebih di lereng.<\/p>\n<p>Meskipun metode desain probabilistik untuk lereng batuan pertama kali dikembangkan pada tahun 1970-an (Harr, 1977; Canada DEMR, 1978), metode tersebut tidak digunakan secara luas (pada tahun 2003). Alasan yang mungkin untuk kurangnya penerimaan ini adalah bahwa istilah seperti &#8220;probabilitas kegagalan 5%&#8221; dan &#8220;konsekuensi kegagalan Prinsip desain lereng batuan 11 yang dinyatakan sebagai nyawa hilang&#8221; tidak dipahami dengan baik, dan ada pengalaman terbatas tentang probabilitas yang dapat diterima untuk digunakan dalam desain (lihat Bagian 1.4.4).<\/p>\n<p>Perhitungan regangan di lereng merupakan kemajuan terbaru dalam desain lereng. Teknik ini dihasilkan dari pengembangan metode analisis numerik, dan khususnya yang dapat menggabungkan diskontinuitas (Starfield dan Cundall, 1988). Ini paling banyak digunakan di bidang pertambangan di mana pergerakan dapat ditoleransi, dan lereng mengandung berbagai kondisi geologi (lihat Bab 10).<\/p>\n<p>Metode desain faktor beban dan hambatan (LRFD) telah dikembangkan untuk desain struktural,<br \/>\ndan sekarang diperluas ke sistem geoteknik seperti pondasi dan struktur penahan.<br \/>\nRincian lebih lanjut dari metode desain ini dibahas dalam Bagian 1.4.5.<\/p>\n<p>Faktor keamanan yang sebenarnya, kemungkinan kegagalan atau regangan yang diijinkan yang digunakan dalam desain<br \/>\nharus sesuai untuk setiap situs. Proses desain membutuhkan pertimbangan yang cukup besar karena berbagai faktor geologi dan konstruksi yang harus dipertimbangkan.<br \/>\nKondisi yang memerlukan penggunaan faktor keamanan pada kisaran tertinggi yang dikutip dalam<br \/>\nTabel 1.3 meliputi:<br \/>\n\u2022 Program pengeboran terbatas yang tidak mencukupi kondisi pengambilan sampel di lokasi, atau<br \/>\ninti bor di mana terdapat kerusakan mekanis atau kehilangan inti yang ekstensif.<br \/>\n\u2022 Tidak adanya singkapan batuan sehingga pemetaan struktur geologi tidak memungkinkan, dan ada<br \/>\ntidak ada riwayat kondisi stabilitas lokal.<br \/>\n\u2022 Ketidakmampuan untuk mendapatkan sampel yang tidak terganggu untuk pengujian kekuatan, atau kesulitan dalam mengekstrapolasi<br \/>\nhasil uji laboratorium dengan kondisi in situ.<br \/>\n\u2022 Tidak adanya informasi tentang kondisi air tanah, dan fluktuasi musiman yang signifikan<br \/>\ndi permukaan air tanah.<br \/>\n\u2022 Ketidakpastian dalam mekanisme kegagalan lereng dan keandalan metode analisis.<br \/>\nMisalnya, kegagalan jenis bidang dapat dianalisis dengan cukup yakin, sementara<br \/>\nmekanisme rinci dari kegagalan menjatuhkan kurang dipahami dengan baik.<br \/>\n\u2022 Perhatian terhadap kualitas konstruksi, termasuk material, inspeksi dan cuaca<br \/>\nkondisi.<br \/>\n\u2022 Konsekuensi ketidakstabilan, dengan faktor keamanan yang lebih tinggi digunakan untuk bendungan dan<br \/>\nrute transportasi utama, dan nilai yang lebih rendah untuk bangunan sementara atau jalan industri<br \/>\nuntuk operasi penebangan dan penambangan.<\/p>\n<p>Buku ini tidak mencakup penggunaan sistem penilaian massa batuan (Haines dan Terbrugge, 1991;<br \/>\nDurn dan Douglas, 1999) untuk desain lereng. Saat ini (2003), hal itu dianggap yang sering terjadi<br \/>\npengaruh diskontinuitas diskrit pada stabilitas harus, dan dapat, dimasukkan langsung ke dalamnya<br \/>\nanalisis stabilitas. Dalam pengenal massa batuan, struktur geologi hanya salah satu komponen pengenal dan tidak boleh diberi bobot yang sesuai dalam pengenal.<\/p>\n<p>Aspek penting dari semua desain lereng batuan adalah kualitas peledakan yang digunakan dalam penggalian. Rancangan<br \/>\nmengasumsikan bahwa massa batuan terdiri dari balok utuh, yang bentuk dan ukurannya ditentukan oleh<br \/>\ndiskontinuitas yang terjadi secara alami. Lebih lanjut, sifat diskontinuitas ini harus dapat diprediksi dari pengamatan singkapan permukaan dan inti bor. Namun, jika peledakan yang terlalu berat digunakan yang mengakibatkan kerusakan pada batuan di belakang permukaan, stabilitas dapat bergantung pada kondisi batuan yang retak. Karena sifat batuan rekahan tidak dapat diprediksi, kondisi stabilitas juga tidak dapat diprediksi. Peledakan dan pengendalian kerusakan akibat ledakan dibahas dalam Bab 11.<\/p>\n<p>1.4.2 Analisis batas ekuilibrium (deterministik)<br \/>\nKestabilan lereng batuan untuk kondisi geologi yang ditunjukkan pada Gambar 1.4 (a) dan (f) tergantung pada kekuatan geser yang dihasilkan sepanjang longsoran.<\/p>\n<p>Gambar 1.8 Metode penghitungan faktor keamanan balok geser: (a) Diagram Mohr menunjukkan kuat geser yang ditentukan oleh kohesi c dan sudut gesek \u03c6; (b) resolusi gaya W akibat berat balok menjadi komponen sejajar dan tegak lurus terhadap bidang geser (dip \u03c8p).<\/p>\n<p>Untuk semua kegagalan jenis geser, batuan dapat diasumsikan sebagai material Mohr-Coulomb di mana kekuatan geser dinyatakan dalam bentuk kohesi c dan sudut gesekan \u03c6. Untuk permukaan geser di mana terdapat tegangan normal efektif \u03c3 yang bekerja, kekuatan geser \u03c4 yang dikembangkan pada permukaan ini diberikan oleh<\/p>\n<p>\u03c4 = c + \u03c3 tan \u03c6 (1.1)<\/p>\n<p>Persamaan (1.1) dinyatakan sebagai garis lurus pada tegangan normal-plot tegangan geser (Gambar 1.8 (a)),<br \/>\ndi mana kohesi ditentukan oleh intersep pada sumbu tegangan geser, dan sudut gesekan adalah<br \/>\nditentukan oleh kemiringan garis. Tegangan normal efektif adalah perbedaan antara tegangan akibat berat batuan yang berada di atas bidang geser dan pengangkatan akibat tekanan air.<br \/>\nbertindak di permukaan ini. Gambar 1.8 (b) menunjukkan kemiringan yang mengandung sambungan terus menerus yang keluar dari permukaan dan membentuk balok geser. Perhitungan faktor keamanan untuk balok yang ditunjukkan pada Gambar 1.8 (b) melibatkan resolusi gaya yang bekerja pada permukaan geser menjadi komponen yang bekerja tegak lurus dan sejajar dengan permukaan ini. Artinya, jika kemiringan permukaan geser adalah \u03c8p, luasnya A, dan berat balok yang terletak di atas permukaan geser adalah W, maka tegangan normal dan geser pada bidang geser adalah<\/p>\n<p>Tegangan normal: \u03c3 = W cos \u03c8p \/ A<br \/>\ndan tegangan geser: \u03c4s = W sin \u03c8p \/ A (1.2)<br \/>\ndan persamaan (1.1) dapat dinyatakan sebagai<br \/>\n\u03c4 = c + (W cos \u03c8p tan \u03c6) \/ A (1,3)<br \/>\natau<br \/>\n\u03c4sA = W sin \u03c8p dan<br \/>\n\u03c4A = cA + W cos \u03c8p tan \u03c6 (1.4)<\/p>\n<p>Dalam persamaan (1.4), suku [W sin \u03c8p] mendefinisikan gaya resultan yang bekerja pada bidang geser<br \/>\ndan disebut &#8220;gaya penggerak&#8221; (\u03c4sA), sedangkan istilah [cA + W cos \u03c8p tan \u03c6] mendefinisikan gaya geser<br \/>\ngaya-gaya kekuatan yang bekerja di atas bidang yang menahan luncuran dan disebut sebagai &#8220;gaya-gaya penahan&#8221; (\u03c4A).<br \/>\nStabilitas balok pada Gambar 1.8 (b) dapat diukur dengan rasio gaya penahan dan penggerak, yang disebut faktor keselamatan, FS. Oleh karena itu, ekspresi untuk faktor<br \/>\nkeamanan<br \/>\nFS = gaya penahan \/ gaya penggerak (1,5)<br \/>\nFS = (cA + W cos \u03c8p tan \u03c6) \/ (W sin \u03c8p) (1.6)<\/p>\n<p>Tegangan geser geser \u03c4s dan tegangan geser resisten \u03c4 ditentukan oleh persamaan (1.4) diplot pada Gambar 1.8 (a). Pada Gambar 1.8 (a) terlihat bahwa tegangan tahan melebihi tegangan geser, sehingga faktor keselamatan lebih besar dari satu dan kemiringan stabil.<\/p>\n<p>Jika permukaan geser bersih dan tidak mengandung pengisi maka kohesi cenderung nol dan persamaan (1.6) tereduksi menjadi<br \/>\nFS = (cos \u03c8p \u00b7 tan \u03c6) \/ sin \u03c8p (1.7)<br \/>\natau<br \/>\nFS = 1 ketika \u03c8p = \u03c6 (1,8)<\/p>\n<p>Persamaan (1.7) dan (1.8) menunjukkan bahwa untuk permukaan yang kering dan bersih tanpa penyangga yang terpasang, blok tersebut<br \/>\nbatuan akan bergeser ketika sudut kemiringan permukaan geser sama dengan sudut gesekan permukaan ini,<br \/>\ndan stabilitas itu tidak tergantung pada ukuran balok geser. Artinya, blok tersebut dalam kondisi tertentu<br \/>\ndari &#8220;ekuilibrium pembatas&#8221; ketika gaya pendorong persis sama dengan gaya menolak dan<br \/>\nfaktor keamanan sama dengan 1.0. Oleh karena itu, metode analisis stabilitas lereng dijelaskan dalam hal ini<br \/>\nbagian ini disebut analisis ekuilibrium batas.<\/p>\n<p>Gambar 1.9 Pengaruh gaya air tanah dan baut terhadap faktor keamanan lereng batuan: (a) air tanah dan gaya baut yang bekerja pada permukaan geser; (b) Diagram Mohr tegangan yang bekerja pada permukaan geser yang menunjukkan kondisi stabilitas stabil dan tidak stabil.<\/p>\n<p>Analisis kesetimbangan batas dapat diterapkan pada berbagai kondisi dan dapat menggabungkan gaya seperti gaya air yang bekerja pada permukaan geser, serta gaya penguat eksternal yang dipasok oleh jangkar batuan yang dikencangkan. Gambar 1.9 (a) menunjukkan lereng yang mengandung permukaan geser dengan luas A dan kemiringan \u03c8p, dan retak tegangan vertikal. Kemiringan sebagian jenuh sehingga retakan tegangan setengah terisi dengan air, dan tabel air keluar di mana permukaan geser menerangi permukaan lereng. Tekanan air yang dihasilkan pada retakan tegangan dan pada permukaan geser dapat didekati dengan diagram gaya segitiga dimana tekanan maksimum, p pada dasar retakan tegangan dan ujung atas permukaan geser diberikan oleh<br \/>\np = \u03b3w hw (1.9)<br \/>\ndengan \u03b3w adalah satuan berat air dan hw adalah tinggi vertikal air pada retakan tegangan.<br \/>\nBerdasarkan asumsi tersebut, gaya air yang bekerja pada retakan tegangan, V, dan pada bidang geser, U, adalah sebagai berikut:<br \/>\nV = 1 \/ 2.w.h2w dan U = 1 \/ 2.\u03b3w.hwA (1.10)<br \/>\ndan faktor keamanan lereng dihitung dengan memodifikasi persamaan (1.6) sebagai berikut:<br \/>\nFS = cA + (W cos \u03c8p &#8211; U &#8211; V sin \u03c8p) tan \u03c6 \/ (W sin \u03c8p + V cos \u03c8p) (1.11)<br \/>\nDemikian pula, persamaan dapat dikembangkan untuk lereng yang diperkuat di mana jangkar batuan yang dikencangkan telah dipasang dengan jangkar di bawah bidang geser.<\/p>\n<p>Jika jangkar adalah T dan dipasang pada sudut \u03c8T di bawah horizontal, maka gaya normal dan gaya geser yang bekerja pada bidang geser akibat tegangan jangkar adalah:<br \/>\nNT = T sin (\u03c8T + \u03c8p) dan<br \/>\nST = T cos (\u03c8T + \u03c8p) (1,12)<br \/>\ndan persamaan yang menentukan faktor keamanan dari lereng berlabuh yang jenuh sebagian adalah<br \/>\nFS = cA + (W cos \u03c8p &#8211; U &#8211; V sin \u03c8p + T sin (\u03c8T + \u03c8p)) tan \u03c6 \/ (W sin \u03c8p + V cos \u03c8p &#8211; T cos (\u03c8T + \u03c8p))<br \/>\n(1.13)<br \/>\nGambar 1.9 (b) menunjukkan pada diagram Mohr besarnya tegangan normal dan tegangan geser<br \/>\npermukaan geser yang dikembangkan oleh air dan gaya baut, dan pengaruhnya terhadap faktor tersebut<br \/>\nkeamanan. Artinya, gaya destabilisasi (misalnya air) menurunkan tegangan normal dan meningkatkan tegangan geser, dan cenderung menyebabkan resultan gaya berada di atas garis kekuatan pembatas, yang menunjukkan ketidakstabilan (Titik B). Sebaliknya, gaya penstabil (baut dan drainase) meningkatkan tegangan normal dan menurunkan tegangan geser, dan menyebabkan resultan berada di bawah garis, yang menunjukkan stabilitas (Titik C).<\/p>\n<p>Diagram gaya pada Gambar 1.9 (b) juga dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa sudut kemiringan optimum untuk<br \/>\nbaut, yaitu kemiringan yang menghasilkan faktor keamanan terbesar untuk gaya jangkar batuan tertentu<br \/>\n\u03c8T (opt) = \u03c6 &#8211; \u03c8p atau \u03c6 = \u03c8p + \u03c8T (opt) (1.14)<\/p>\n<p>Penerapan yang ketat dari persamaan (1.14) dapat menunjukkan bahwa jangkar harus dipasang di atas<br \/>\nhorizontal, yaitu, \u03c8T negatif. Namun, dalam praktiknya, biasanya lebih baik memasang jangkar di bawah horizontal karena ini memudahkan pengeboran dan grouting, serta menyediakan pemasangan yang lebih andal.<\/p>\n<p>Contoh analisis kesetimbangan batas untuk menghitung stabilitas lereng batuan menunjukkan bahwa ini adalah metode serbaguna yang dapat diterapkan pada berbagai kondisi. Salah satu batasan metode kesetimbangan batas adalah bahwa semua gaya diasumsikan bekerja melalui pusat gravitasi balok, dan tidak ada momen yang dihasilkan.<\/p>\n<p>Analisis yang dijelaskan dalam bagian ini dapat diterapkan pada balok yang meluncur pada bidang. Akan tetapi, dalam kondisi geometris tertentu, blok tersebut dapat roboh daripada bergeser, dalam hal ini harus digunakan bentuk analisis ekuilibrium batas yang berbeda. Gambar 1.10 menunjukkan kondisi yang membedakan balok stabil, balok geser, dan balok terguling dalam kaitannya dengan lebar x dan tinggi y balok, kemiringan \u03c8p bidang tempatnya, dan sudut gesekan surface permukaan ini. Balok geser dianalisis baik sebagai kegagalan bidang atau baji (lihat Bab 6 dan 7 masing-masing), sedangkan analisis kegagalan tumbang dibahas di Bab 9. Gambar 1.10 (b) menunjukkan bahwa hanya ada kondisi terbatas di mana terjadi tumbang, dan pada Faktanya ini adalah jenis kegagalan yang kurang umum dibandingkan dengan kegagalan geser.<\/p>\n<p>Referensi: Wyllie, Duncan C. Dan Mah, Christopher W (2004) Teknik lereng batu &#8211; sipil dan pertambangan edisi ke-4, London dan New York<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1.4 Metode desain lereng batuan Bagian ini merangkum empat prosedur berbeda untuk mendesain lereng batuan, dan menunjukkan data dasar yang diperlukan untuk menganalisis stabilitas lereng. Metode desain dan data desain sama-sama digunakan untuk pertambangan dan teknik sipil. Tabel 1.1 Definition of landslides features 1.4.1 Ringkasan metode desain Ciri dasar dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-393","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-info-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"1.4 Metode desain lereng batuan Bagian ini merangkum empat prosedur berbeda untuk mendesain lereng batuan, dan menunjukkan data dasar yang diperlukan untuk menganalisis stabilitas lereng. Metode desain dan data desain sama-sama digunakan untuk pertambangan dan teknik sipil. Tabel 1.1 Definition of landslides features 1.4.1 Ringkasan metode desain Ciri dasar dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"PT Abdiyasa Dharma Inovasi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/abdiyasadharma\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-12-13T06:02:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-10-06T12:55:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"dharma\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@abdiyasadharma\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@abdiyasadharma\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"dharma\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\"},\"author\":{\"name\":\"dharma\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/a0edb721e068df84901af03a6667dce7\"},\"headline\":\"Prinsip Desain Lereng Batu &#8211; 1.4 Metode desain lereng batuan\",\"datePublished\":\"2017-12-13T06:02:33+00:00\",\"dateModified\":\"2020-10-06T12:55:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\"},\"wordCount\":2073,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\",\"articleSection\":[\"News\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\",\"url\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\",\"name\":\"Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\",\"datePublished\":\"2017-12-13T06:02:33+00:00\",\"dateModified\":\"2020-10-06T12:55:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage\",\"url\":\"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prinsip Desain Lereng Batu &#8211; 1.4 Metode desain lereng batuan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#website\",\"url\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/\",\"name\":\"PT Abdiyasa Dharma Inovasi\",\"description\":\"Penyedia Kebutuhan Drilling Blasting Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization\",\"name\":\"Abdiyasa Dharma Inovasi\",\"url\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/logo-adi-05.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/logo-adi-05.png\",\"width\":1327,\"height\":1266,\"caption\":\"Abdiyasa Dharma Inovasi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/abdiyasadharma\",\"https:\/\/x.com\/abdiyasadharma\",\"https:\/\/www.instagram.com\/abdiyasadharma\/\",\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/abdiyasa\/?originalSubdomain=id\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/a0edb721e068df84901af03a6667dce7\",\"name\":\"dharma\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/855f71c260396692a866abeb5f57047dfea58daebb23e0fa77acdebf22ac46fa?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/855f71c260396692a866abeb5f57047dfea58daebb23e0fa77acdebf22ac46fa?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"dharma\"},\"url\":\"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/author\/dharma\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi","og_description":"1.4 Metode desain lereng batuan Bagian ini merangkum empat prosedur berbeda untuk mendesain lereng batuan, dan menunjukkan data dasar yang diperlukan untuk menganalisis stabilitas lereng. Metode desain dan data desain sama-sama digunakan untuk pertambangan dan teknik sipil. Tabel 1.1 Definition of landslides features 1.4.1 Ringkasan metode desain Ciri dasar dari [&hellip;]","og_url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/","og_site_name":"PT Abdiyasa Dharma Inovasi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/abdiyasadharma","article_published_time":"2017-12-13T06:02:33+00:00","article_modified_time":"2020-10-06T12:55:06+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg","type":"","width":"","height":""}],"author":"dharma","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@abdiyasadharma","twitter_site":"@abdiyasadharma","twitter_misc":{"Written by":"dharma","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/"},"author":{"name":"dharma","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/a0edb721e068df84901af03a6667dce7"},"headline":"Prinsip Desain Lereng Batu &#8211; 1.4 Metode desain lereng batuan","datePublished":"2017-12-13T06:02:33+00:00","dateModified":"2020-10-06T12:55:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/"},"wordCount":2073,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg","articleSection":["News"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/","url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/","name":"Prinsip Desain Lereng Batu - 1.4 Metode desain lereng batuan - PT Abdiyasa Dharma Inovasi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg","datePublished":"2017-12-13T06:02:33+00:00","dateModified":"2020-10-06T12:55:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#primaryimage","url":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg","contentUrl":"http:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Tabel-1.1-298x300.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/2017\/12\/principle-of-rock-slope-design-1-4-rock-slope-design-methods\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prinsip Desain Lereng Batu &#8211; 1.4 Metode desain lereng batuan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#website","url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/","name":"PT Abdiyasa Dharma Inovasi","description":"Penyedia Kebutuhan Drilling Blasting Terpercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#organization","name":"Abdiyasa Dharma Inovasi","url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/logo-adi-05.png","contentUrl":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/logo-adi-05.png","width":1327,"height":1266,"caption":"Abdiyasa Dharma Inovasi"},"image":{"@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/abdiyasadharma","https:\/\/x.com\/abdiyasadharma","https:\/\/www.instagram.com\/abdiyasadharma\/","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/abdiyasa\/?originalSubdomain=id"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/a0edb721e068df84901af03a6667dce7","name":"dharma","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/855f71c260396692a866abeb5f57047dfea58daebb23e0fa77acdebf22ac46fa?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/855f71c260396692a866abeb5f57047dfea58daebb23e0fa77acdebf22ac46fa?s=96&d=mm&r=g","caption":"dharma"},"url":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/author\/dharma\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1049,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393\/revisions\/1049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/abdiyasa.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}